Resiko Kredit Rumah Kpr Btn Tanpa Dp

Resiko Kredit Rumah Kpr Btn Tanpa Dp – Sekarang ini terdapat banyak sekali mekanisme pembiayaan untuk kpr yang ditawarkan oleh sejumlah bank, entah itu dari suku bunga kreditnya, tenornya, smapai dengan uang untuk membayar uang mukanya.

Resiko Kredit Rumah Kpr Btn Tanpa Dp

Bahkan, kini juga sudah ada wacana untuk menghilangkan uang muka atau down payment untuk para kreditur supaya nantinya para masyarakat dari kelas bawah dapat mempunyai sebuah rumah. Salah satunya adalah yang ditawarkan oleh kredit rumah kpr BTN tanpa DP.

Baca juga: Tips Mengajukan Permohonan Penurunan Bunga Kredit Rumah Ke Developer

Pihak direktur Jenderal dari Pembiayaan perumahan kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat, yaitu Maurin Sitorus telah menjelaskan bahwa ada sejumlah hal yang wajib Anda perhatikan bila Anda ingin mencoba mengajukan kredit rumah kpr BTN tanpa DP untuk proses pembiayaan sebuah rumah.

Pertama, tentang komitmen kepemilikannya. Maurinmenyatakan bahwa bila tidak ada uang muka atau DP, itu artinya owner ship atau komitmen kepemilikan debitur kredit rumah menjadi semakin rendah. Hal tersebut juga terkait dengan adanya aspek yang kedua, yaitu seputar besaran angsuran dan juga kemampuan membayar para debitur itu sendiri.

Bilamislanya Anda mengajukan kredit rumah kpr BTN tanpa DP, maka itu artinya uang angsuran yang harus Anda bayar juga akan menjadi semakin lebih besar. Hal tersebut sudah pasti terjadi.

Perhitungan mudahnya bisa dicontohkan misalnya Anda mengajukan kredit rumah sebesar 100 juta rupiah. Bila nanti dengan uang muka sebesar 30%, itu artinya Anda tinggal mengangsur sebanyak 70 juta rupiah saja. Itu berarti bahwa bunga untuk KPR sebanyak 5% itu menjadi 3,5 juta rupiah untuk nilai dari 70 juta rupiah tersebut.

Dengan asumsi jumlah tenor selama 15 th, maka nanti debitur wajib membayar angsurannya sebesar Rp 408.334, -/ bulan. Dengan perhitungan 73,5 juta rupiah/ 180 bulan.

Namun, bila Anda memakai skema kredit rumah kpr BTN tanpa DP, maka beban untuk bunga menjadi tidak sama. Yaitu sebesar 5% dikali 100 juta rupiah, menjadi senilai 5 juta rupiah. Jadi, dengan tenor selama 15 th, maka Anda harus membayar sebanyak Rp 583.334, -/ bulan. Jadi, 105 juta rupiah/ 180 bulan.

Kini, angsuran untuk membayar rumah menjadi semakin lebih tinggi. Tentu saja ini akan menjadi sebuah masalah lagi. Mengingat ketentuan untuk membayar angsuran saat ini adalah sebesar 35% dari penghasilan kreditur.

Jadi, bila nanti pendapatan Anda mepet sekali sedangkan masih ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, padahal Anda masih harus mengangsur rumah yang cicilannya tinggi, tentu ini akan membuat Anda berpikir 2x untuk membayar angsuran Anda tersebut. sehingga, bila hal ini dibiarkan terjadi akan menimbulkan kredit macet.

Bila nanti kpr bermasalah, maka pihak bank juga akan bermasalah pula. Bila pihak bank sendiri bermasalah, itu akan membuat perekonomian nasional menjadi bermasalah pula. Hal ini cukup simple, dan mikro. Namun, masalah yang mikro ini bisa menjadi makro bila tidak diperhatikan dengan baik.

Kecuali bila jumlah jangka waktu atau tenor pinjaman menjadi lebih panjang, misalnya menjadi 30 th, maka angsurannya menjadi lebih ringan. Namun, hal tersebut sudah jelas tidak mungkin ada angsuran tenor selama itu.

Jadi, hal yang seperti ini nanti pasti akan mempengaruhi perhitungan besaran dari angsuran yang harus dibayar. Maka dari itulah, perhatikan juga dengan kondisi perbankan sendiri dalam hal resiko dan pembiayaannya. Agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.