Cara Mengatai Gagal Bayar Angsuran Kredit Rumah Via Developer

Cara Mengatai Gagal Bayar Angsuran Kredit Rumah Via Developer – Setiap orang tentu tidak ingin mengalami gagal bayar saat sedang mengajukan kredit rumah via developer ini. Bagaimana pun juga, gagal bayar ini bisa menyebabkan Anda kehilangan rumah impian Anda dalam waktu itu juga. Belum lagi masih ada juga denda yang harus dibayarkan karena keterlambatan angsurannya tersebut. Tentu saja hal ini patut diperhitungkan dengan sebaik-baiknya.

Cara Mengatai Gagal Bayar Angsuran Kredit Rumah Via Developer

Nah, dalam hal ini, umumnya untuk mereka yang mengalami gagal bayar angsuran kredit rumah via developer, mereka langsung saja melakukan penjualan rumah itu dengan sistem over kredit. Over kredit menjadi hal yang umum karena banyaknya orang-orang yang mengalami gagal bayar angsurannya. Maka dari itulah, bila Anda mengalami gagal bayar, sebaiknya perhatikan sejumlah hal di bawah ini agar nantinya masalah Anda bisa teratasi dengan mudah, antara lain:

Baca juga: Cara Mendapat Kredit Rumah Yang Murah Di Bandung

Sebagai contoh, ada seorang kreditur bernama Firman. Firman telah membeli rumah dari seorang kawan yang saat itu masih dalam kondisi proses KPR di bank yang masih berjalan. Proses pembelian rumah di antara Firman dan temannya itu dilakukan tanpa sepengetahuan pihak bank. Karena saat itu, Firman hanya mendapat 3 buah akta dari notaris saja. Yaitu akta kuasa, akta jual beli, dan akta kuasa pengambilan untuk akta tanah yang disimpan di bank setelah kredit tersebut lunas.

Sesudah melakukan hal tersebut, dan Firman membawa ke-3 akta itu, apakah kini Firman berada dalam kondisi yang kuat dan aman bila terjadi sengketa di suatu saat nanti? Jawabannya adalah posisinya kuat, namun tetap saja tidak aman untuk Firman. Mau tahu alasannya? Karena dalam hal ini, Firman telah melakukan sebuah kesalahan.

Karena Firman telah melakukan transaksi jual beli dalam kategori over untuk hak atas tanah yang dijaminkan ke dalam bank. Firman telah over kredit rumah yang masih berperan seabgai debitur pengganti dari penjual yang punya rumah sebelumnya itu. Selain hal tersebut, memang benar bila Firman dengan 3 akta itu punya kedudukan yang cukup kuat. Karena yang menjual rumah tersebut adalah pemilik realnya.

Selain itu, Firman beserta temannya juga sudah melakukan transaksi peralihan atas hak dengan sebuah cara yang benar di atas hukum ketika telah menandatangani sejumlah 3 akta itu. Namun meskipun begitu, perlu diketahui bahwa posisi Firman saat ini tidak sepenuhnya benar-benar aman saat proses transaksi tersebut sedang berlangsung. Hal ini dikarenakan kesalahan Firman adalah melakukan transaksi dibelakang tanpa sepengetahuan dari pihak bank.

Padahal, pihak bank ini sudah seharusnya tahu tentang semua itu. Karena yang paling berperan penting dalam hal ini adalah pihak bank itu sendiri. Pihak bank lah yang telah berperan sekali menjadi pemilik jaminan dari rumah yang telah dijaminkan tersebut. Rumah itulah yang telah dijadikan sebagai objek dari kpr. Sehingga, meskipun Firman memiliki 3 akta itu, tetap saja kedudukannya tidak aman.

Nah, dalam hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa sudah seharusnya bila Anda melakukan over kredit ini harus tetap sepengetahuan dari pihak bank. Misalnya saja ada teman Anda yang mengalami gagal bayar, dan menjual rumah tersebut dalam kondisi yang masih memiliki kredit di dalamnya, sebaiknya lakukan semua proses dan transaksinya tersebut dengan sepengetahuan pihak bank. Karena jika tidak, hal tersebut bisa menjadi sebuah boomerang terbesar dan terburuk untuk Anda nantinya.