Tombol Nuklir Korea Utara Ditangan Siapa saat Kim Jong Un Tiba?

Tombol Nuklir Korea Utara Ditangan Siapa saat Kim Jong Un Tiba – Pertemuan di antara Presiden Amerika Serikat, yaitu Donald Trump dan juga sang pemimpin dari Korea Utara, yaitu Kim Jong Un hari ini adalah sebuah peristiwa paling penting dalam sejarah 2018 kali ini. Karena pertemuan di antara keduanya tersebut adalah dalam rangka untuk pembahasan nuklir di area Perang Dingin. Tentu saja ini adalah salah satu moment yang paling ditunggu-tunggu saat ini.

Baca Juga :Tips Bebas Gemuk di Akhir Pekan

Presiden Amerika Serikat sudah pasti memiliki akses untuk persenjataan nuklir di setiap waktu dimanapun mereka berada. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimanakah cara Kim Jong Un ini dalam mengakses persenjataan nuklir mereka ketika dirinya sedang bepergian jauh? Di awal tahun ini, Kim Jong Un sering kali menyatakan pada dunia bahwa tombol nuklir selalu ada dalam genggamannya. Tepatnya ada di meja kerjanya.

Tombol Nuklir Korea Utara Ditangan Siapa saat Kim Jong Un Tiba?

Tentu saja atas pernyataan tersebut membuatnya dianggap sebagai sang pengendali untuk persenjataan nuklir. Dilansir dalam salah satu halaman situs berita, bahwa Trump saat itu langsung saja membalasnya ke dalam akun Twitternya, berupa dirinya juga memiliki sebauh tombol nuklir yang ukurannya jauh lebih besar dan jauh lebih kuat. Namun juga dapat berfungsi dengan baik.

Saat kedua pemimpin tersebut bertemu di Singapura kali ini untuk membahas perundingan tentang nuklir, Donald Trump akan selalu didampingi oleh para stafnya yang sedang membawa tombol nuklir ke dalam sebuah bentuk peralatan yang dapat digunakan untuk memerintahkan sebuah serangan berupa senjata nuklir. Korea Utara sendiri merupakan salah satu negara yang paling kaku dan paling ketat, bila berbicara tentang perintah komando untuk persenjataan nuklirnya.

Dari berkuasa memimpin di tahun 2011, Kim akhirnya baru keluar negeri sebanyak 2x saja. yaitu di kawasan Beijing dan juga di area zona larangna militer saat sedang bertemu dengan sang Presiden Korea Selatan, yaitu Moon Jae di tanggal 27 April yang lalu. Melihat hal tersebut, itu artinya Singapura adalah salah satu negara terjauh yang pernah didatangi oleh Kim. Sejumlah pengamat menilai bahwa sangat tidak mungkin sekali bila Kim berani datang ke Singapura tanpa meyakini bahwa dirinya masih memiliki akses untuk senjata nuklirnya dan sudah pasti dirinya masih bisa memerintahkan serangan dengan baik.

Berdasrkan pakar dari Korea Utara yang ada di Universitas Griffith, di Quenland, Australia mengatakan bahwa, kita semua tidak pernah tahu tentang seberapa jauhkah perkembangna atas kemampuan berkomunikasi Korea Utara. Itu artinya, untuk pertanyaan tentang apakah Kim Jong Un masih bisa mengakses prosedur perintah komande dengan mudah selama berada di Singapura ini masih tetap sah untuk diajukan. Bisa saja bahwa dapat diasumsikan bahwa pemimpin Korut ini tidak akan memerintahkan serangan nuklirnya dengan mudah, saat sedang dibutuhkan.

Sepertinya Kim memberikan otoritas tersebut untuk salah satu orang yang dia percaya di Korea Utara dan  masih berada di Pyongyang, termasuk untuk Choe Ryong Hae. Yaitu seorang pejabat senior yang telah mengantarkan Kim untuk berangkat menuju ke SIngapura. Kim memiliki prosedur untuk memberikan izin dan persetujuan dalam melancarkan serangan nuklir saat diirnya ada di luar negeri. Seorang pejabat yang dipercaya ini akan selalu memantau jaringan komunikasi yang ada di Korea Utara. Dimana sepertinya mereka juga memiliki sebauh sistem kode yang bisa digunakan untuk mengaktifkan prosedur untuk peluncuran rudal balistik.